Petani di Gilirejo Baru, Miri Mau di Peras Rp 25 Juta Oleh 3 Orang yang Mengaku Wartawan dan LSM

CYBER INDONESIA
CYBER INDONESIA
COVER-MEDIA-ONLINE_20240928_002358_0000

Foto istimewa oleh tim Berita Istana Negara saat Gibran Rakabuming Raka ke Desa Gilirejo Baru Miri Sragen 1 Januari 2024

Sragen, 16 Februari 2025 – Seorang petani di Desa Gilirejo Baru, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen nyaris menjadi korban pemerasan oleh tiga orang yang mengaku sebagai wartawan dan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Ketiganya diduga meminta uang sebesar Rp 25 juta dengan dalih menyelesaikan sebuah permasalahan yang mereka tuduhkan kepada petani tersebut.

Menurut keterangan warga setempat, kejadian bermula ketika tiga orang tersebut mendatangi rumah petani yang namanya dirahasiakan. Mereka mengaku memiliki informasi mengenai dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh petani itu dan mengancam akan mempublikasikannya ke media serta melaporkannya ke pihak berwenang jika tidak diberikan sejumlah uang.

“Saya kaget ketika mereka datang dan bicara seolah-olah saya punya masalah hukum. Mereka meminta uang Rp 25 juta agar masalah itu tidak diproses lebih lanjut,” ujar petani tersebut saat ditemui wartawan.

Merasa terancam, petani tersebut kemudian melaporkan kejadian ini kepada perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat.

Warsito, pemilik PT Berita Istana Negara, merasa heran sekaligus geram setelah menerima kabar bahwa seorang petani di Gilirejo Baru, Miri, Sragen, akan menjadi korban pemerasan oleh oknum yang mengaku sebagai wartawan dan anggota LSM. Informasi ini ia terima dari tiga tokoh masyarakat Gilirejo Baru yang meneleponnya pada Minggu, 16 Februari 2025.

Menurut laporan yang diterima Warsito, tiga orang tersebut awalnya meminta uang sebesar Rp 25 juta kepada seorang petani. Namun, setelah negosiasi, mereka menurunkan permintaan menjadi Rp 15 juta dengan ancaman akan menyebarkan berita negatif jika uang tidak diberikan.

Petani Kekurangan Pupuk, Dimanfaatkan Oknum,Warga menjelaskan bahwa petani di Gilirejo Baru mengalami kesulitan mendapatkan pupuk untuk tanaman jagung mereka yang ditanam di lahan perhutani. Jatah pupuk yang diberikan memang sesuai dengan ketentuan, tetapi jumlahnya tidak mencukupi, terutama bagi petani yang menggarap lahan hingga 40 hingga 60 hektare. Akibatnya, mereka harus membeli pupuk tambahan dari luar wilayah.

Situasi inilah yang dimanfaatkan oleh oknum yang mengaku sebagai wartawan dan LSM untuk menekan petani.

Warsito: Jangan Takut, Kita Hadapi Bersama!, Menanggapi hal ini, Warsito yang juga merupakan putra daerah menegaskan kepada masyarakat Gilirejo Baru agar tidak takut terhadap ancaman tersebut. Ia menyarankan agar warga tidak memberikan uang kepada oknum tersebut dan segera melaporkan kejadian semacam ini kepadanya.

“Jangan takut! Itu hanya oknum yang tidak jelas legalitasnya. Jika mereka masih mencoba meminta uang, tunggu saya! Kita jebak sekalian dan bekerja sama dengan Polres Sragen serta Polda Jateng. Mereka sudah melanggar kode etik jurnalistik,” tegas Warsito.

Ia juga mengingatkan bahwa wartawan yang profesional tidak akan pernah melakukan pemerasan. Menurutnya, warga harus mencontoh media nasional seperti Kompas TV, Solopos, dan iNews yang memiliki wartawan profesional dan berintegritas.

Gilirejo Baru: Desa Terpencil yang Terkena Dampak Waduk Kedung Ombo, Warsito menambahkan bahwa Gilirejo Baru merupakan desa termuda yang terpencil dan terisolir. Mayoritas warganya bercocok tanam di lahan perhutani karena lahan mereka terdampak pembangunan Waduk Kedung Ombo (WKO).

Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya telah mengantongi identitas para oknum yang diduga melakukan pemerasan. Jika nantinya ada berita negatif yang menyudutkan petani, Warsito menegaskan bahwa ia akan menjadi garda terdepan dalam membela warganya.

“Kalau ada pemberitaan miring, jangan takut! Saya akan berdiri di barisan depan untuk membela warga kami,” pungkasnya.

Penulisan: Warsito

SEBARKAN

Pos terkait